Si Kecil Cas, Cis, Cus, dalam Bahasa Asing
Hal yang wajar saja jika kita mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak balita. Namun, yanga pastinya syarat dan ketentuannya harus berlaku. Salah satu syarat itu adalah telah mahirnya anak balita itu berkomunikasi dengan bahasa kita yaitu bahasa Indonesia.
bila kamu memperhatikannya, sekarang kian banyaknya anak balita yang gemar sekali berbicara dalam bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-harinya. Sekarang ini juga penguasaan bahasa asing itu seperti menjadi suatu kata kunci untuk para orangtua dalam proses mendidik anak-anaknya. Dapat dikatakan, cara ini adalah salah satu usaha orangtua dalam proses menyiapkan anak-anaknya untuk menghadapi persaingan di masa depan yang semakin ketat.
pendapat dari Mayke S. Tedjasaputra yang merupakan Psikolog dan Playtherapist dari Universitas Indonesia, boleh-boleh saja kita mendidik anak kita berbahasa asing kepada anak, namun untuk membenarkan alasannya itu Mayke pun berkata. “cantohnya saja jika orangtua bekerja di luar negeri selama beberapa tahun lamanya, maka mau tak mau anak kita harus berbahasa asing sesuai dengan bahasa di lingkungan sekitarnya,” alasannya.
tapi, faktanya tidak sedikit dari orangtua yang susah mengajari anaknya berbahasa asing karena alasan trend atau gengsi. “Keadaan ini sangat memprihatinkan karena orangtua harus menyadari anak hidup di negara Indonesia, dia orang Indonesia yang harus bisa berbahasa Indonesia,” tegas Mayke.
kata Mayke, bahasa utama yang harus diajarkan kepada anak sebaiknya disesuaikan dengan lingungan utama pergaulan anak. Mengingat anak tinggal di Indonesia, maka anak butuh pengusaan bahasa ibunya terlebih dahulu (bahasa Indonesia atau bahasa daerah). Maka Dengan demikian, stimulasi anak terhadap bahasa ini cukup banyak, misalnya dari orangtua, keluarga besar, pengasuh, teman, dan lingkungan lain.
pemahaman bahasa ibu itu juga dimaksudkan supaya anak kita tidak merasa tersisihkan dari lingkungan pergaulannya. “Bisa Anda bayangkan kalau anak ini menjadi asing dengan bahasanya sendiri. Bicara bahasa Indonesia terpatah-patah dengan aksen orang asing,” papar Mayke. Lagipula, dari sudut budaya kondisi tersebut mencerminkan kita menghargai budaya Indonesia yang salah satunya diwujudkan melalui penggunaan bahasa Indonesia atau daerah.
Sesuaikan kondisi anak
Sebelum Anda kokoh ingin mengajari anak anda bahasa asing, cocokan dahulu dengan kondisi anaknya, contohnya bahasa apakah yang pakai oleh anak dalam sehari-harinya di rumah? Apakah salah satu orangtuanya orang asing yang sehari-hari menggunakan bahasa asing? Pendapat dari Mayke, dalam kondisi ini, sejak bayi anak bisa belajar dua bahasa sekaligus sebab kedua bahasa itu menjadi “makanan” sehari-hari yang ia dengar.
“Perlu konsistensi bahasa yang digunakan oleh ayah dan oleh ibunya, misalnya Ibu berbahasa Indonesia, ayah berbahasa Perancis. Yang penting dalam belajar bahasa adalah anak memungut dengan sendirinya bahasa yang sering digunakan dalam percakapan di rumah,” tandas Mayke.
jika anak anda telah cukup lancar berbicara dalam bahasa ibu, maka di usia 3-4 tahun anak anda boleh diajari bahasa asing tersebut. tapi, jika anak anda mengalami gangguan dalam perkembangan bahasa dan bicara, sebaiknya ajarkan satu bahasa saja kepada anak anda secara ajeg, paling tidak sampai ia berusia 4-5 tahun. Apa saja tanda dari gangguan perkembangan bahasa dan bicara? “Anak sulit memahami perintah, atau dia paham perintah, tetapi sulit mengucapkan kata-kata, sulit meniru kata-kata yang diajarkan,” jelas Mayke.
supaya anak kian mahir cas, cis, cus, dalam bahasa asing, banyak dari orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah yang berbahasa asing yang bagus. Karena pendapat para ahli, anak yang belajar dua bahasa di sekolah (mulai usia 3 – 5 tahun), mereka mampu menguasai dua bahasa dengan baik. namun, perlu dilihat metode pengajarannya. “Bukan dengan menghafal, tapi melalui pengalaman dan kegiatan sehari-hari,” Mayke mengingatkan.
Bila terus dipelihara, kemampuan anak pada bahasa asing akan terus terpelihara sampai ia besar. Karena itu menyekolahkan anak di sekolah dwi bahasa saja tidak cukup. Orangtua perlu mengajari anak melalui praktek bicara sehari-hari. “Untuk anak pra sekolah, bisa juga dengan memperdengarkan lagu-lagu dalam bahasa asing, buku cerita, atau film pendek,” ujar Mayke.
Meskipun demikian, orang tua harus menekankan pada anak kebanggaan akan bahasa Indonesia. Ingatlah bahasa asing adalah bahasa kedua. “Di rumah, orangtua bisa mengajak anak bicara dalam bahasa Indonesia. Dengan pengasuh atau pembantu, biarkan juga anak tetap berbahasa Indonesia agar bahasanya tidak menjadi kacau,” saran Mayke.
Orangtua tak perlu cemas anak akan bingung bahasa, karena menurut Mayke, biasanya anak mampu melakukan code switching. Ia tahu ketika berhadapan dengan orang tertentu harus berbahasa Indonesia atau bahasa asing. (bbg.010)
Bahasa Indonesia Harus Mendunia
Bahasa Indonesia harus terus dikedepankan sebagai alat komunikasi dalam kehidupan kita sehari-hari dan kegiatan itu dilaksanakan supaya bahasa Indonesia itu bisa dikenal dan dipahami oleh masyarakat dunia seperti bahasa Inggris, terutama dalam era globalisasi dan modernisasi.
Kepala Sub Bidang Pembakuan dan Kodifikasi Pusat Bahasa, Bapak Dr Fairul Zabadi di Medan, Rabu, menjelaskan, warga Indonesia harus bangga dengan berkomunikasi memakai bahasa nasionalnya yaitu bahasa Indonesia, ini semua dikarenakan pada era globalisasi ini butuh mempromosikan bahasa Indonesia secara internasional.
Bahasa Indonesia sangat memiliki potensi untuk menjadi bahasa dan sastra yang “berbicara” di dunia apabila masyarakat Indonesia dapat dan mampu dihadirkan sebagai salah satu “suku global” (global-tribe) di dunia internasional.
Agar dapat menjadikan bahasa Indonesia yang dikenal sebagai bagian dari global-tribe tersebut, maka masyarakat kita harus mengutamakan bahasa tersebut dalam sehari-harinya di dunia.
Fairul mengevaluasi, tidak sedikit masyarakat kita kini memulai memakai kata-kata bahasa asing dalam kesehariannya dan meninggalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa “gaul” mereka sendiri, masalah itu dikarenakan faktor globalisasi yang menjadikan sebuah “image” bahwa bahasa asing patut dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal sesungguhnya, bahasa Indonesia itu harus ditempatkan setara dengan bahasa asing tersebut, sebab bahasa Indonesia itu sama baik dan benarnya dengan bahasa asing, malahan bahasa Indonesia sudah lama menyiapkan diri menghadapi era globalisasi inis.
Perubahan situasi komunikasi tutur itu pastinya sangat berpengaruh terhadap perkembangan kosakata bahasa Indonesia yang sebagian besar berasal dari bahasa daerah dan asing.
Bahasa Indonesia dengan kosakata dan istilahnya saat ini diduga banyak mengalami “gangguan” bila diperhatikan dari fungsi dan kedudukannya sebagai bahasa Nasional.
Semua itu dapat kita lihat, dengan mudahnya kita memperoleh kata dan istilah asing yang pada hakikatnya masih bisa diisi dengan kosakata dan istilah bahasa Indonesia.
Seperti pada situasi dunia informatika ini, masyarakat saat kini sangat akrab dengan istilah “home page, download, online dan e-mail“, padahal sesungguhnya istilah tersebut dalam bahasa Indonesia dikenal dengan home page, unduh ( download), daring (online) dan pos-el (e-mail).
Masyarakat diinginkan agar bersama-sama mempromosikan dan memakai istilah-istilah tersebut supaya akrab di telinga masyarakat Indonesia bahkan dunia.
Kepala Balai Bahasa Medan, Prof Dr Amrin Saragih, MA mengatakan kembali, jika hal tersebut diteruskan, lama-kelamaan bahasa Indonesia pasti akan tergerogoti dan tercabut dari akar budayanya.
“Kita tidak ingin imperialisme ekonomi (asing) yang sudah mempropagandakan perekonomian kita, juga menular menjadi imperialisme bahasa asing yang akan merusak bahasa kita,” kata Kepala Balai Bahasa Medan, Prof Dr Amrin Saragih. (bbg.007)
Potensi Ekspor Software Pendidikan Masih Besar
Perkembangan dunia teknologi dapat kita manfaatkan untuk member dukung an kepada dunia pendidikan saat ini. Ini dapat terwujud dengan terciptanya piranti lunak (software) pendidikan yang dapat membantu kita dengan meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air kita Indonesia.
Software tersebut Adalah PesonaEdu yang sudah melakukan hal tersebut. Tak mau sendirian PesonaEdu yang di dunia internasional dikenal dengan nama Amazing Edu mengajak banyak developer bersinergi untuk menembus pasar ekspor dunia.
Pendapat dari Direktur Marketing PesonaEdu, Hari S Chandra, pihaknya sudah melihat software edukasi tersebut yang merupakan produk yang masih baru di dunia dalam lima tahun terakhir ini.
“maka dengan demikian, persaingan di dunia global ini relative lebih mudah dibanding animasi film dan games,” kata Hari S Chandra di kantornya, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.
Hari mengevaluasi peluang tersebut dengan dapat dicarinya para developer Indonesia yang handal. Apalagi sekarang ini di Indonesia sudah mempunyai banyak pemain di tingkat dunia, yakni PT PesonaEdu dan PT SSI.
“Karena itu, ada peluang yang sangat besar di dunia untuk memasarkan software edukasi,” jelasnya dengan menilai.
Kompetisi atau persaingan di dalam negeri terhadap produk luar negeri pun relatif lebih mudah.
mengenai hal yang Terkait dengan kebutuhan terhadap software ini, Hari S Chandar mengatakan, tahun ini sekiranya Rp 1,75 triliun dari Kemendikbud dan keperluan primer dunia pendidikan mencapai 1,4 miliar siswa.
untuk para developer Indonesia Hari, menawarkan beberapa bentuk kerja sama, seperti ekspor sendiri ke luar negeri atau lisensi bersama PesonaEdu ke luar negeri.
“Developer juga dapat menjual produknya ke PesonaEdu dengan sistem jual putus. Kami menghargai dengan nilai Rp 30-45 juta untuk 10-15 lembar karya developer,”ucap Hari S Chandra.
Lisensi bersama dalam mengekspor software edukasi dapat dilakukan dengan pembagian 50:50 bagi yang di luar negeri. Sedangkan penjualan di dalam negeri, pembagiannya 70 persen untuk developer dan 30 persen untuk PesonaEdu.
Sementara itu, sebelumnya, Sekjen Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Indonesia (MIKTI), Hari Sungkari menyatakan, software edukasi adalah salah satu yang akan dikembangkan.
“Kita ingin, para developer bisa menikmati kekayaan dari royalti atau lisensi yang diterima dengan karya-karyanya. Industri ini hanya bisa maju jika kita tumbuh bersama,” ungkap Hari Sungkari.
Software PesonaEdu, merupakan kurikulum software. Ini berarti software tersebut dikembangkan berdasarkan kurikulum nasional yang berlaku di Indonesia.
Terdapat lebih dari 1.500 halaman animasi dan simulasi interaktif yang dikembangkan sejak 1986 dan telah diekspor ke 23 negara di dunia.
Software ini juga telah mendapat berbagai penghargaan dalam negeri dan International. Seri PesonaEdu terdiri dari versi lengkap offline untuk sekolah dan versi online untuk guru, siswa, dan orang tua. Versi lengkap offline untuk sekolah dapat dioperasikan dalam jaringan dan dilengkapi dengan koleksi soal.
Sedangkan versi lengkap online dikhususkan untuk guru, orang tua, dan siswa yang membutuhkan alat bantu belajar yang memiliki simulasi interaktif dengan harga yang terjangkau. Materi pembelajaran dapat di-download dan diaktivasi via internet dalam satuan bab atau topik.
Untuk kebutuhan ekspor ke berbagai negara di dunia, PT Pesona Edukasi menggunakan brand AmazingEdu Software. Ini tersedia dalam concise version untuk individu dan full version untuk Sekolah.
Sekolah nasional plus dan international dengan bahasa pengantar di kelas menggunakan bahasa Inggris, dapat juga membeli Seri AmazingEdu Software. (bbg.002)



Sebuah terobosan baru dari 