Si Kecil Cas, Cis, Cus, dalam Bahasa Asing

December 6, 2011 by  
Filed under Berita

Hal yang wajar  saja jika kita mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak balita. Namun,  yanga pastinya syarat dan ketentuannya harus berlaku. Salah satu syarat itu adalah  telah mahirnya anak balita itu berkomunikasi dengan bahasa kita yaitu bahasa Indonesia.

bila kamu memperhatikannya, sekarang kian banyaknya anak balita yang gemar sekali berbicara dalam bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-harinya. Sekarang ini juga penguasaan bahasa asing itu seperti menjadi suatu kata kunci untuk para orangtua dalam proses mendidik anak-anaknya. Dapat dikatakan, cara ini adalah salah satu usaha orangtua dalam proses menyiapkan anak-anaknya untuk menghadapi persaingan di masa depan yang semakin ketat.

pendapat dari  Mayke S. Tedjasaputra yang merupakan  Psikolog dan Playtherapist dari Universitas Indonesia, boleh-boleh saja kita mendidik anak kita  berbahasa asing kepada anak, namun untuk membenarkan alasannya itu Mayke pun berkata. “cantohnya saja jika orangtua bekerja di luar negeri selama beberapa tahun lamanya, maka mau tak mau anak kita harus berbahasa asing sesuai dengan bahasa di lingkungan sekitarnya,” alasannya.

tapi, faktanya tidak sedikit dari orangtua yang susah mengajari anaknya berbahasa asing karena alasan trend atau gengsi. “Keadaan ini sangat memprihatinkan  karena orangtua harus menyadari anak hidup di negara Indonesia, dia orang Indonesia yang harus bisa berbahasa Indonesia,” tegas Mayke.

kata Mayke, bahasa utama yang harus diajarkan kepada anak sebaiknya disesuaikan dengan lingungan utama pergaulan anak. Mengingat anak tinggal di Indonesia, maka anak butuh pengusaan bahasa ibunya terlebih dahulu (bahasa Indonesia atau bahasa daerah). Maka Dengan demikian, stimulasi anak terhadap bahasa ini cukup banyak, misalnya dari orangtua, keluarga besar, pengasuh, teman, dan lingkungan lain.

pemahaman bahasa ibu itu juga dimaksudkan supaya anak kita tidak merasa tersisihkan dari lingkungan pergaulannya. “Bisa Anda bayangkan kalau anak ini menjadi asing dengan bahasanya sendiri. Bicara bahasa Indonesia terpatah-patah dengan aksen orang asing,” papar Mayke. Lagipula, dari sudut budaya kondisi tersebut mencerminkan kita menghargai budaya Indonesia yang salah satunya diwujudkan melalui penggunaan bahasa Indonesia atau daerah.

Sesuaikan kondisi anak

Sebelum Anda kokoh ingin mengajari anak anda bahasa asing, cocokan dahulu dengan kondisi anaknya, contohnya bahasa apakah yang pakai oleh anak dalam sehari-harinya di rumah? Apakah salah satu orangtuanya orang asing yang sehari-hari menggunakan bahasa asing? Pendapat dari  Mayke, dalam kondisi ini, sejak bayi anak bisa belajar dua bahasa sekaligus sebab kedua bahasa itu menjadi “makanan” sehari-hari yang ia dengar.

“Perlu konsistensi bahasa yang digunakan oleh ayah dan oleh ibunya, misalnya Ibu berbahasa Indonesia, ayah berbahasa Perancis. Yang penting dalam belajar bahasa adalah anak memungut dengan sendirinya bahasa yang sering digunakan dalam percakapan di rumah,” tandas Mayke.

jika anak anda telah cukup lancar berbicara dalam bahasa ibu, maka di usia 3-4 tahun anak anda boleh diajari bahasa asing tersebut. tapi, jika anak anda mengalami gangguan dalam perkembangan bahasa dan bicara, sebaiknya ajarkan satu bahasa saja kepada anak anda secara ajeg, paling tidak sampai ia berusia 4-5 tahun. Apa saja tanda dari gangguan perkembangan bahasa dan bicara? “Anak sulit memahami perintah, atau dia paham perintah, tetapi sulit mengucapkan kata-kata, sulit meniru kata-kata yang diajarkan,” jelas Mayke.

supaya anak kian mahir cas, cis, cus, dalam bahasa asing, banyak dari orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah yang berbahasa asing yang bagus. Karena pendapat para ahli, anak yang belajar dua bahasa di sekolah (mulai usia 3 – 5 tahun), mereka mampu menguasai dua bahasa dengan baik. namun, perlu dilihat metode pengajarannya. “Bukan dengan menghafal, tapi melalui pengalaman dan kegiatan sehari-hari,” Mayke mengingatkan.

Bila terus dipelihara, kemampuan anak pada bahasa asing akan terus terpelihara sampai ia besar. Karena itu menyekolahkan anak di sekolah dwi bahasa saja tidak cukup. Orangtua perlu mengajari anak melalui praktek bicara sehari-hari. “Untuk anak pra sekolah, bisa juga dengan memperdengarkan lagu-lagu dalam bahasa asing, buku cerita, atau film pendek,” ujar Mayke.

Meskipun demikian, orang tua harus menekankan pada anak kebanggaan akan bahasa Indonesia. Ingatlah bahasa asing adalah bahasa kedua. “Di rumah, orangtua bisa mengajak anak bicara dalam bahasa Indonesia. Dengan pengasuh atau pembantu, biarkan juga anak tetap berbahasa Indonesia agar bahasanya tidak menjadi kacau,” saran Mayke.

Orangtua tak perlu cemas anak akan bingung bahasa, karena menurut Mayke, biasanya anak mampu melakukan code switching. Ia tahu ketika berhadapan dengan orang tertentu harus berbahasa Indonesia atau bahasa asing. (bbg.010)

Mengajari Balita Bahasa Inggris

April 1, 2009 by  
Filed under Tips Belajar

.

Banyak orang tua yang mengirimkan anaknya ikut kursus bahasa Inggris. Alasannya, agar tidak tertinggal dan dapat mengikuti perubahan yang begitu cepat. Padahal usia buah hati masih balita.

Mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Indonesia pun masih belum lancar. Berikut adalah beberapa hal yang harus Anda ketahui jika Anda berniat mengikutkan anak ke kursus bahasa Ingris.

1. Anda bisa memilih, ikut kursus atau memanggil guru privat ke rumah. Jika ikut kursus, anak dapat bersosialisasi dengan teman sebaya, dan ini akan menimbulkan semangat belajar. Selain itu, fasilitas belajar yang lengkap juga akan membantu memacu kreativitas mereka.

Sementara jika Anda memilih kursus privat, perkembangan kemampuan belajar anak dapat dipantau secara baik, sehingga kurikulum yang diberikan bisa disesuaikan dengan kemampuan anak, tak perlu mengikuti kurikulum baku.

2. Pilih tempat kursus yang mempunyai sistem pengajaran yang baik. Kalau perlu survei lebih dulu. Anda bisa bertanya ke pengelola atau orang tua lain yang sudah ikut kursus. Selain itu, fasilitas belajar apa saja yang disediakan, seperti buku-buku, komputer, dan alat permainan dan peraga.

3. Jumlah anak yang terlalu banyak dalam satu kelas juga menyebabkan acara belajar dan mengajar tidak akan berlangsung secara efektif.

4. Kegiatan berlajar tak hanya di tempat kursus. Di rumah pun, Anda harus rajin mengulang-ulang kata-kata yang telah dipelajari, agar anak terbiasa dengan kata-kata tersebut. Pengulangan juga melatih lafal bahasa Inggris yang benar dengan cara memperbaiki pengucapan anak yang salah.

5. Ingat benar bahwa pengajaran untuk anak usia balita adalah dengan cara bermain. Misalnya, dengan menggambar, bernyanyi, atau bercerita. Kosa kata yang dipelajari pun sebaiknya kata yang sehari-hari digunakan seperti angka, anggota tubuh, ucapan salam, ucapan permintaan dan sebagainya.

Sumber: Novaonline