Aplikasi pelajaran bahasa Inggris EF untuk anak, di posisi no. 1 pada iTunes kategori aplikasi pendidikan gratis

December 18, 2011 by  
Filed under Berita

Segera tinggalkan kartu peraga yang membosankan, EF English First, adalah perusahaan pendidikan swasta terbesar di dunia, yang meluncurkan aplikasi iPad, EF High Flyers English Vocabulary Game untuk anak-anak di seluruh dunia. Aplikasi ini memperbaharui kartu peraga, salah satu alat bantu belajar tertua, dengan materi 3D yang kaya dan permainan yang sangat menarik bagi anak-anak, memberikan pengalaman fantastis melalui iPad mereka. Aplikasi ini telah menduduki posisi no. 1 pada kategori pendidikan di Apple App Store di lebih dari 50 negara.

Menurut survei PBS baru-baru ini, 70 persen orang tua memperbolehkan putra-putri mereka mempergunakan iPad, dan rata-rata memiliki 8 aplikasi untuk anak. Hal terpenting dari aplikasi tersebut? “Nilai pendidikan”. Dengan lebih dari 500 kartu peraga, audio yang jernih, sistem belajar canggih, dan perkembangan yang dapat dipantau oleh orang tua, aplikasi EF High Flyer diciptakan untuk memperkaya kurikulum pelajaran bahasa Inggris EF bagi anak usia 10 tahun ke bawah.

“Saat kami perhatikan kedua filosofi kami, ‘belajar dimanapun, kapanpun’ dan kepopuleran iPad di kalangan anak, kami sadar bahwa menciptakan aplikasi untuk iPad adalah kesempatan yang sangat bagus untuk melanjutkan pelajaran di kelas,” ujar Jacob Toren, Presiden EF English First.

Aplikasi ini merupakan yang terbaru dari rangkaian aplikasi mobile EF, mulai dari aplikasi untuk belajar bahasa, seperti aplikasi iPAD untuk EF Englishtown – sekolah bahasa Inggris online terbesar di dunia – sampai aplikasi untuk jejaring sosial bagi murid-murid EF.

Download aplikasi gratis ini di:

http://itunes.apple.com/us/app/ef-english-first-high-flyers/id438876183?mt=8

Tentang EF English First

EF English First adalah bagian dari EF Education First. Didirikan pada tahun 1965, dengan misi untuk “menjembatani perbedaan bahasa, budaya, dan geografi”, EF adalah perusahaan pendidikan terdepan di dunia, telah membantu lebih dari 15 juta murid belajar bahasa dan melakukan perjalanan ke luar negeri. Dengan jaringan 400 kantor dan sekolah di seluruh dunia, EF mengkhususkan diri dalam pelatihan bahasa, perjalanan pendidikan, gelar akademis, dan program pertukaran budaya. EF baru saja menerbitkan English Proficiency Index (www.ef.com/epi ), peringkat kemampuan berbahasa Inggris di berbagai negara di dunia. (bbg.035)

UMY Buka Prodi Pendidikan Bahasa Inggris

December 16, 2011 by  
Filed under Berita

Penggunaan dan pembelajaran Bahasa Inggris mutlak harus dipelajari seseorang dalam merespons dan menghadapi tantangan pada abad ke-21 ini. Menyikapi tuntutan global tersebut, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) hari ini secara resmi melaunching program studi (prodi) pendidikan Bahasa Inggris yang dianggapnya study yang paling penting sekali saat ini.

Kepala Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMY sendiri yakni bapak Endro Dwi Hatmanto, S.Pd, MA menyatakan, bahwa Prodi Bahasa Inggris hadir karena kebutuhan guru bahasa Inggris yang kompeten di Indonesia masih tinggi.

“Di samping itu, hasil survai yang dilakukan Prodi Bahasa Inggris UMYua menunjukkan, animo masyarakat terhadap prodi pendidikan bahasa Inggris sangat tinggi permintaannya,” kata Endro dalam Seminar dan Launching Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di kampus UMY.
Endro menjelaskan, kompetensi utama Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMY adalah menjadikan lulusannya siap bersaing di pasar kerja. Lulusan prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMY diharapkan, memiliki kefasihan berbahasa Inggris, keahlian melaksanakan pendidikan dan pengajaran, kecanggihan dalam menguasai teknologi pembelajaran, serta kemahiran merancang dan melaksanakan penelitian maupun mengintrepretasikan data secara profesional.

“Kami berharap dapat menciptakan lulusan yang berkompeten dan profesional dalam bersaing di dunia kerja. Apalagi prospek karir dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris masih sangat cerah, baik sebagai guru, dosen, maupun sebagai entrepreneur,” ujar
Endro.

Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMY diperkirkan bisa menampung 100 mahasiswa baru melalui tiga gelombang dengan staf pengajar didominasi lulusan S2 dan beberapa lainnya tengah menempuh program S3. Prodi baru ini merupakan satu-satunya prodi yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi sementara di kampus lain masih berdasar standar isi. Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMY nantinya juga akan dielaborasi dengan pendidikan agama Islam.

Sementara itu, dosen sukarelawan dari Teachers of English to Speakers of Other Languages (TESOL) untuk UMY Phil Taylor, M.Ed, mengungkapkan, pada abad 21 ini aspek informasi dan teknologi berkembang sangat pesat di bidang industri. Internet sebagai salah satu
produk teknologi yang canggih yang telah menggunakan bahasa Inggris pada lebih dari satu milyar halamannya untuk memberikan informasi.

“Hal ini dikarenakan  bahwa bahasa Inggris telah menjadi bahasa universal atau bahasa internasional, tak sekadar bagi manusia, namun juga pada internet. Bahasa ini telah memberikan kesempatan bagi manusia untuk mengakses informasi dalam internet tersebut,” ungkap Phil.

Sebagai alat komunikasi, bahasa Inggris telah digunakan oleh sekira 400 juta orang dari negara yang berbahasa Inggris dan 600 juta hingga satu miliar orang dari negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua mereka. Phil menambahkan, beragam makalah penelitian, buku, majalah, dan koran dari seluruh dunia juga menggunakan bahasa Inggris.

“Sekira 95 persen dari penelitian ilmiah yang dipublikasikan telah menggunakan bahasa Inggris, dan hanya 50 persen dari penulis tersebut berasal dari negara berbahasa Inggris,” tutup Phil. (ivn46)

Debat Bahasa Inggris Harusnya Masuk Kurikulum

December 11, 2011 by  
Filed under Berita

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) bersama Universitas Diponegoro (Undip) tengah menyelenggarakan Lomba Debat Bahasa Inggris tingkat nasional.
Kegiatan yang diikuti 330 peserta dari seluruh Nusantara bertujuan meningkatkan kemampuan dan keahlian lisan berbahasa Inggris dan daya saing civitas akademika yang dimiliki dalam skala internasional.

“Debat ini tak lain bertujuan meningkatkan daya saing lulusan perguruan tinggi melalui debat ilmiah, kemampuan bahasa Inggris secara lisan, pola pikir kritis dan analitis, akan menciptakan iklim kompetitif  agar mampu bersaing dalam skala nasional Read more

Bahasa Indonesia dan Inggris, Sama Pentingnya

December 9, 2011 by  
Filed under Berita

Institusi pendidikan yang memakai suatu konsep dwibahasa atau bilingual harus didukung penuh oleh sekolah, guru, serta kurikulum dan metode pengajaran yang tepat. Jika tidak dilakukan, bukan cuma berakibat pada sisi akademis dan keterampilan siswa saja, tetapi longgarnya ikatan terhadap penggunaan bahasa nasional dapat berpengaruh buruk pada nasionalisme mereka juga.

Hal tersebut dikatakan oleh Antarina SF Amir, Ketua High/Scope Indonesia,  dalam jumpa pers dan seminar “Dual Language Essentials for Teachers and Administrastors” di Jakarta. Acara sosialisasi konsep dual language tersebut menghadirkan pembicara Dr David Freeman dan Dr Yvone Freeman, “pasutri linguistik” dari Universitas Arizona, Amerika Serikat.

Untuk itulah, tambah Antarina, keinginan orangtua membekali anak-anaknya dengan bahasa Inggris sebaiknya harus dengan berbagai pertimbangan matang. Khususnya, ketika mereka membidik sekolah-sekolah favorit yang menawarkan konsep tersebut. Alasannya, konsep dwibahasa tidak sekadar mengubah bahasa pengantar dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.

Antarina mengatakan, aplikasi konsep tersebut harus didukung penuh oleh sekolah, guru, serta kurikulum dan metode pengajaran yang tepat. “Kalau tidak, akibatnya bisa berpengaruh besar pada sisi akademis dan keterampilan siswa. Selain itu, kian minimnya penggunaan bahasa nasional atau Indonesia juga akan berpengaruh buruk pada nasionalisme siswa terhadap bahasa ibunya sendiri,” tandas Antarina.

“Subtractive” dan “Additive”

Antarina mengatakan, ada beberapa jenis metode pengajaran bahasa Inggris pada siswa yang bahasa pertamanya bukan bahasa Inggris. Namun umumnya, secara garis besar metode tersebut bisa diklasifikasikan dalam dua kelompok besar, yaitu Subtractive Programs dan Additive Programs.

Pada Subtractive Programs, instruksi pengajaran disampaikan dalam bahasa Inggris. Pada program ini, jelaslah bahwa bahasa pertama atau bahasa Indonesia digantikan sepenuhnya oleh bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. “Dengan konsep ini beberapa sekolah mengajarkan bahasa Indonesia hanya di saat pelajaran bahasa Indonesia, karena semua mata pelajaran diberikan dalam bahasa Inggris,” kata Antarina.

Itulah kiranya, Antarina memiliki kekhawatiran besar terhadap para siswa sebagai generasi muda Indonesia. “Karena dalam bahasa Inggris siswa memang akan menjadi pandai, baik dalam bahasa akademis maupun sosial. Sebaliknya, ketika harus berbahasa Indonesia mereka hanya sebatas bahasa sosial saja, karena sering digunakan hanya sebagai bahasa percakapan saja,” ujarnya.

Pendapat tersebut diamini oleh Dr David Freeman. David mengatakan, penelitiannya di beberapa negara mengungkapkan, metode Subtractive berisiko mengurangi keterampilan berbahasa pertama pada siswa.

“Perlahan mereka semakin tenggelam pada bahasa kedua dan sebaliknya semakin jauh dari bahasa ibu, akibatnya mereka tidak punya kebanggaan terhadap bahasa nasionalnya sendiri,” kata David.

Sementara itu, proses pembelajaran pada Additive Programs dilakukan dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. “Dengan metode ini sekolah bisa mengembangkan keterampilan berbahasa akademik siswa sekaligus pada kedua bahasa tersebut,” tutur Antarina.

Antarina menambahkan, siswa bukan hanya didorong menguasai bahasa Inggris, tetapi menguatkan kemampuan bahasa Indonesianya sendiri. “Dengan metode ini, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia menjadi sama pentingnya, kualitas siswa menggunakan dua bahasa bisa diandalkan baik pada bahasa akademis maupun sosial,” ujar Antarina.

Berdasarkan itulah, saat ini, kata Antarina, High/Scope memilih mengaplikasikan sistem dual language yang mengacu pada Additive Programs tersebut sebagai proses belajar mengajar siswa. Hal itu sekaligus mendapuk High/Scope sebagai instansi pertama yang mengaplikasikan program ini di Indonesia.

Untuk kebutuhan tersebut, kurikulum didesain sedemikian rupa dalam satu konsep atau ide materi pelajaran yang terintegrasi dari beberapa mata pelajaran sekaligus.

“Satu tema kami sinergikan sekaligus dari semua mata pelajaran mulai dari sains, matematika, sosial, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia, hal ini sekaligus menjadikan siswa bukan hanya baik dalam berbahasa melainkan juga keterampilan lain,” tukas Antarina. (bbg.019)

 

Mengajari Balita Bahasa Inggris

April 1, 2009 by  
Filed under Tips Belajar

.

Banyak orang tua yang mengirimkan anaknya ikut kursus bahasa Inggris. Alasannya, agar tidak tertinggal dan dapat mengikuti perubahan yang begitu cepat. Padahal usia buah hati masih balita.

Mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Indonesia pun masih belum lancar. Berikut adalah beberapa hal yang harus Anda ketahui jika Anda berniat mengikutkan anak ke kursus bahasa Ingris.

1. Anda bisa memilih, ikut kursus atau memanggil guru privat ke rumah. Jika ikut kursus, anak dapat bersosialisasi dengan teman sebaya, dan ini akan menimbulkan semangat belajar. Selain itu, fasilitas belajar yang lengkap juga akan membantu memacu kreativitas mereka.

Sementara jika Anda memilih kursus privat, perkembangan kemampuan belajar anak dapat dipantau secara baik, sehingga kurikulum yang diberikan bisa disesuaikan dengan kemampuan anak, tak perlu mengikuti kurikulum baku.

2. Pilih tempat kursus yang mempunyai sistem pengajaran yang baik. Kalau perlu survei lebih dulu. Anda bisa bertanya ke pengelola atau orang tua lain yang sudah ikut kursus. Selain itu, fasilitas belajar apa saja yang disediakan, seperti buku-buku, komputer, dan alat permainan dan peraga.

3. Jumlah anak yang terlalu banyak dalam satu kelas juga menyebabkan acara belajar dan mengajar tidak akan berlangsung secara efektif.

4. Kegiatan berlajar tak hanya di tempat kursus. Di rumah pun, Anda harus rajin mengulang-ulang kata-kata yang telah dipelajari, agar anak terbiasa dengan kata-kata tersebut. Pengulangan juga melatih lafal bahasa Inggris yang benar dengan cara memperbaiki pengucapan anak yang salah.

5. Ingat benar bahwa pengajaran untuk anak usia balita adalah dengan cara bermain. Misalnya, dengan menggambar, bernyanyi, atau bercerita. Kosa kata yang dipelajari pun sebaiknya kata yang sehari-hari digunakan seperti angka, anggota tubuh, ucapan salam, ucapan permintaan dan sebagainya.

Sumber: Novaonline