Promo Program Awal Tahun Persiapan Sekolah
Kabar Gembira dalam rangka Awal Tahun Sekolah, The Private meluncurkan program promo terbaru dengan harga yang amat terjangkau. Segera Daftarkan Diri, nikmati harga spesial, dan rasakan menjadi juara kelas.
1. Family Program
Program Privat Pelajaran SD, SMP, dan SMU untuk persiapan ujian akhir tahun 2012. Program ini dapat diikuti oleh dua bersamaan (kelas sama). Mata pelajaran dapat dipilih maksimal 2 mata pelajaran. Rincian harga sebagai berikut:
a. Siswa SD : 8 kali pertemuan @ 90 menit : Rp. 800.000. atau hanya Rp. 400.000 per orang
b. Siswa SMP : 8 kali pertemuan @ 90 menit : Rp. 950.000. atau hanya Rp. 475.000 per orang
c. Siswa SMA/K : 8 kali pertemuan @ 90 menit : Rp. 1,200.000. atau hanya Rp. 600.000 per orang
2. Group Program
Program Privat Pelajaran SD, SMP, dan SMU untuk persiapan ujian akhir tahun 2012, diadakan secara group, dapat diikuti oleh 5- 8 orang. Mata pelajaran dapat dipilih maksimal 2 mata pelajaran. Rincian harga sebagai berikut:
a. Siswa SD : 8 kali pertemuan @ 90 menit : Rp. 4.000.000.
b. Siswa SMP : 8 kali pertemuan @ 90 menit : Rp. 5.000.000.
c. Siswa SMA/K : 8 kali pertemuan @ 90 menit : Rp. 6.000.000. .
Daftar Sekarang, Promo Berlaku Hanya sampai tanggal 15 April 2012
Hubungi kami segera — The Private
10 Tips Bermanfaat Saat Ujian
March 4, 2009 by admin
Filed under Tips Belajar
Sepuluh Tips Saat Ujian:
Ketika Anda melakukan ujian, Anda sedang mendemonstrasikan kemampuanmu dalam memahami materi pelajaran, atau dalam melakukan tugas-tugas tertentu. Ujian memberikan dasar evaluasi dan penilaian terhadap perkembangan belajarmu. Ada beberapa kondisi lingkungan, termasuk sikap dan kondisimu sendiri, yang mempengaruhimu dalam melakukan ujian.
Sepuluh tips untuk membantu Anda dalam mengerjakan ujian:
1. Datanglah dengan persiapan yang matang dan lebih awal.
Bawalah semua alat tulis yang Anda butuhkan, seperti pensil, pulpen, kalkulator, kamus, jam (tangan), penghapus, tip ex, penggaris, dan lain-lainnya. Perlengkapan ini akan membantumu untuk tetap konsentrasi selama mengerjakan ujian.
2. Tenang dan percaya diri.
Ingatkan dirimu bahwa Anda sudah siap sedia dan akan mengerjakan ujian dengan baik.
3. Bersantailah tapi waspada.
Pilihlah kursi atau tempat yang nyaman untuk mengerjakan ujian. Pastikan Anda mendapatkan tempat yang cukup untuk mengerjakannya. Pertahankan posisi duduk tegak.
4. Preview soal-soal ujianmu dulu (bila ujian memiliki waktu tidak terbatas)
Luangkan 10% dari keseluruhan waktu ujian untuk membaca soal-soal ujian secara mendalam, tandai kata-kata kunci dan putuskan berapa waktu yang diperlukan untuk menjawab masing-masing soal. Rencanakan untuk mengerjakan soal yang mudah dulu, baru soal yang tersulit. Ketika Anda membaca soal-soal, catat juga ide-ide yang muncul yang akan digunakan sebagai jawaban.
5. Jawab soal-soal ujian secara strategis.
Mulai dengan menjawab pertanyaan mudah yang Anda ketahui, kemudian dengan soal-soal yang memiliki nilai tertinggi. Pertanyaan terakhir yang seharusnya Anda kerjakan adalah:
- soal paling sulit,
- yang membutuhkan waktu lama untuk menulis jawabannya,
- memiliki nilai terkecil.
6. Ketika mengerjakan soal-soal pilihan ganda, ketahuilah jawaban yang harus dipilih/ditebak.
Mula-mulai, abaikan jawaban yang Anda tahu salah. Tebaklah selalu suatu pilihan jawaban ketika tidak ada hukuman pengurangan nilai, atau ketika tidak ada pilihan jawaban yang dapat Anda abaikan. Jangan menebak suatu pilihan jawaban ketika Anda tidak mengetahui secara pasti dan ketika hukuman pengurangan nilai digunakan. Karena pilihan pertama akan jawabanmu biasanya benar, jangan menggantinya kecuali bila Anda yakin akan koreksi yang Anda lakukan.
7. Ketika mengerjakan soal ujian esai, pikirkan dulu jawabannya sebelum menulis.
Buat kerangka jawaban singkat untuk esai dengan mencatat dulu beberapa ide yang ingin Anda tulis. Kemudian nomori ide-ide tersebut untuk mengurutkan mana yang hendak Anda diskusikan dulu.
8. Ketika mengerjakan soal ujian esai, jawab langsung poin utamanya.
Tulis kalimat pokokmu pada kalimat pertama. Gunakan paragraf pertama sebagai overview esaimu. Gunakan paragraf-paragraf selanjutnya untuk mendiskusikan poin-poin utama secara mendetil. Dukung poinmu dengan informasi spesifik, contoh, atau kutipan dari bacaan atau catatanmu.
9. Sisihkan 10% waktumu untuk memeriksa ulang jawabanmu.
Periksa jawabanmu; hindari keinginan untuk segera meninggalkan kelas segera setelah Anda menjawab semua soal-soal ujian. Periksa lagi bahwa Anda telah menyelesaikan semua pertanyaan. Baca ulang jawabanmu untuk memeriksa ejaan, struktur bahasa dan tanda baca. Untuk jawaban matematika, periksa bila ada kecerobohan (misalnya salah meletakkan desimal). Bandingkan jawaban matematikamu yang sebenarnya dengan penghitungan ringkas.
10. Analisa hasil ujianmu.
Setiap ujian dapat membantumu dalam mempersiapkan diri untuk ujian selanjutnya. Putuskan strategi mana yang sesuai denganmu. Tentukan strategi mana yang tidak berhasil dan ubahlah. Gunakan kertas ujian sebelumnya ketika belajar untuk ujian akhir.
Sumber: Landsberger, Joe. Ten Tips for Test Taking (dari CD MEDIA UM-UGM)
Nasib Guru Gaptek, Pontang Panting Belajar Komputer
Pelaksanaan PLPG beberapa bulan ke depan membuat para guru menjadi sibuk mempersiapkan diri. Bukan hanya mempersiapkan segi finansial, keterampilan juga ikut diasah. Termasuk keterampilan mengoperasikan komputer.
Beberapa guru di Jember mengeluh tidak mampu menjalankan komputer. Padahal di PLPG, yang merupakan syarat mendapat sertifikat guru profesional, guru diwajibkan membawa laptop untuk mempresentasikan hasil kerjanya.
“Wah, pegang mouse saja sulit apalagi harus ngetik,” kata Ibu Fatma, seorang guru di salah satu sekolah negeri di Jember.
Bu Fatma lebih jauh mengatakan kalau dirinya berusaha keras mengikuti pelatihan komputer dua bulan belakangan ini. Namun dia mengakui ternyata sulit untuk menyerap keterampilan itu dengan cepat.
“Sudah tahu cara menghidupkan komputer juga mematikan. Tapi ya gitu. Begitu masuk, mau apa nih, gak bisa apa-apa. Bengong aja di depan komputer. Klak klik gak muncul-muncul Microsoft Word-nya,” ujar Bu Fatma sambil terkekeh.
Bu Suci, seorang guru Matematika mengaku belajar komputer dari anaknya. Setiap ada waktu luang tanpa malu-malu dia minta putrinya yang saat ini duduk di bangku SMA untuk mengajari mengoperasikan komputer.
“Ternyata otak tua kalah sama otak muda. Saya malah bolak-balik dimarahi anak saya karena salah pencet.”
“Betul kata pepatah, belajar di hari tua bagai menulis di atas air,” Bu Suci berkata disambut gelak tawa guru yang sedang berkumpul di ruang guru.
Dinas Pendidikan Jember rencananya akan melaksanakan PLPG awal Juli mendatang. Pelatihan Profesi Guru ini bertempat di Universitas Jember selama 90 hari.
Selama pelatihan, guru di dibekali keterampilan dan materi-materi keguruan. Di akhir pelatihan ada post test yang menentukan kelayakan guru mendapat sertifikat pendidik atau tidak.
Belajar Komputer Dari 0 Sampai Menjadi Kompasianer
Waktu itu pertengahan September 2007. Suhu udara sangatlah menggerahkan. Maklumlah Kota Kupang sebagai ibu kota Nusa Tenggara Timur identik dengan kegersangan dan suhu udara yang memanggang kulit. Saya bersama 50-an mahasiswa semester III, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) Universitas Nusa Cendana Kupang, sudah duduk di depan komputer. Ibu dosen mata kuliah Aplikasi Komputer (Aplikom) mulai menghidupkan LCD Projector lalu berkotek-kotek tentang seluk-beluk pengoperasian komputer bagi pemula.
Tak satu juga penjelasan dosen yang saya mengerti, apalagi digunakan istilah komputer yang baru saya dengar seperti mouse, keyoard, start, microsoft office, backspare, enter, save, dan sebagainya. Jantung hanya berdetak keras dan darah sepertinya membanjir dalam nadi di siang bolong. Ruang kuliah komputer (Pusat Komputer, Universitas Nusa Cendana, Kupang) yang sudah tertutup, tidak ber-AC dan berdebu melengkapi penderitaan saya tentang kegagapan teknologi.
Layar monitor komputer yang di hadapan beberapa teman kemudian menyala, berwarna hitam bertuliskan windows lalu berwarna biru sampai menampilkan gambar (desktop backgroud) dengan beberapa gambar kecil di dalamnya (shortcurt). Entah tombol apa yang ditekan lagi, teman-teman saya itu lalu mulai mengetik tulisan di layar monitor komputer.
Saya makin bingung dan berkeringat dingin. Saya bertanya kepada teman di belakang dan samping kiri tentang cara mengoperasikan komputer namun mereka rupanya juga senasib dengan saya. Ketika berpaling ke teman di samping kanan, dia sepertinya baru mau menyalakan komputer. Rupanya dia cukup menguasai pengoperasian komputer. Walau demikian, saya tidak bertanya kepadanya namun hanya melihat dan mengikuti cara dia menekan tombol-tombol di komputer. Syukurlah, walau dengan jari yang kaku dan gemetaran, akhirnya saya berhasil membuka microsoft office word dan mulai mengetik. Kesulitannya adalah saya memerlukan beberapa detik untuk mencari dan menekan satu huruf saja dikeyboard.
Setelah beberapa menit, saya berhasil mengetik dua baris puisi. Di tengah semangat yang bergelora untuk belajar menggunakan komputer, listrik padam mendadak. Kuliah Aplikom akan dilanjutkan pada minggu berikutnya. “Huh!” Saya kesal namun senangnya luar biasa karena untuk pertama kalinya dalam hidup, pada waktu itu saya berhasil memegang komputer secara langsung hingga mengetik dua baris puisi.
Sewaktu duduk di bangku kelas III SMA pada 2006, memang ada mata pelajaran Teknik Informasi Komputer (TIK) namun mata pelajaran baru itu hanya untuk murid kelas I dan III. Akibatnya saya dan teman-teman seangkatan tidak bisa belajar tentang komputer. Saya juga tidak bisa belajar secara otodidak karena di ibu kota kecamatan, tempat tinggal saya waktu itu, komputer hanya bisa dilihat di instansi-instansi pemerintah. Tempat kursus komputer atau rental komputer juga belum ada.
Setelah tamat SMA, saya melanjutkan pendidikan di Prodi PBSID, Universitas Nusa Cendana, pada 2006. Dengan kegagapan teknologi, saya datang dari Niki niki, sebuah ibu kota kecamatan yang berjarak 149 Km dari Kota Kupang. Waktu itu, telepon genggam saja tidak bisa dioperasikan apalagi komputer. Setiap tugas dari dosen yang harus diketik dengan komputer, saya serahkan kepada petugas rental komputer yang menjamur di Kota Kupang. Walau sudah membayar jasa pengetikan dan print out,hasilnya kerap menjengkelkan karena tulisan tangan saya diketik tanpa memperhatikan tanda baca dan sering kurang huruf. Mungkin karena petugas di rental itu mengetiknya dengan terburu-buru lalu tida mengieditnya.
Belajar Komputer Sendiri
Kasihan juga lihat anak tetangga ngelamar kesana-kesini tidak diterima. Iseng-iseng saya ngobrol dengannya.
“Gimana? dah dapet kerjaan belum?”. “Belum Mas..” dah coba berkali-kali tapi masih belum ada panggilan juga”. “Lho kamu kan lulusan D3? D3 Sistem informatika ya?”. “Iya Mas…”. “Memangnya ngelamar sebagai apa saja?”. “Jadi kurir dan jadi staff administrasi Mas..”. “Lho, kok ga sesuai sama bidang kesarjaanaan kamu sih?, kamu bisa jadi programer atau jadi Ti”.
“Itu dia Mas, saya udah bosen hadapin masalah-masalah komputer, cukup tiga tahun aja deh pusing sama hal-hal begituan (coding program)”.
Sementara itu, di dunia komputer sendiri, tenaga-tenaga TI banyak diisi oleh pekerja yang “tidak” memiliki latar belakang TI. Ada sarjana pertanian, ekonomi, Teknik sipil atau MIPA, termasuk Saya … saya Lulusan dari Teknik Industri, tetapi sekarang lebih fokus untuk menggeluti dunia IT beserta keluarganya .
Jadi apa gunanya Ijazah dong?
Ijazah tetap ada gunanya. Itu sebagai ukuran kemampuan orang yang dinilai dengan Angka. Tapi sayangnya kebenarannya (nilai yang didapat dengan skill sebenarnya) tidak dijamin.
Di dunia komputer sendiri, menempuh jalur otodidak buat saya lebih mengasyikan. Bahkan beberapa pakar internet mengawali belajarnya lewat jalur otodidak.
Kualitas ilmu komputer yang didapat antara belajar lewat jalur otodidak dengan sekolah formal, agak berbeda tipis.
Kekuatan orang belajar komputer secara otodidak adalah, mereka umumnya menguasai hal-hal yang berbau penerapan langsung atau aplikasi, mereka mampu mem-presentasikan kemampuan yang mereka tawarkan kepada pihak lain. Maklum saja, si otodidak sudah terbiasa menjalin komunikasi dengan beberapa orang untuk menggali ilmu dari sumber lain ketika melakukan proses belajar. Jadi kalau bicara langsung ketujuan. Lalu bagaimana dengan jalur sekolah formal?
Sekolah formal juga memiliki kelebihan pada penjelasan yang masuk akal secara teoritis. Jadi jika lawan bicaranya berlatar belakang sama, pembicaraan pun akan cepat nyambung. Sehingga deal-deal bisnis cepat mencapai kata sepakat.
Sekali lagi, Buat saya, jalur otodidak lebih rasional, siapapun bisa mencicipi, karena biayanya super murah. Modalnya:
- Kemauan (tanpa biaya),
- buku bekas atau majalah bekas ( kisaran 10ribu s/d 50 rb),
- ke warnet (5ribu/ 3 jam).
Tapi tiap orang beda-bedalah..kalau Anda punya uang silahkan saja sekolah komputer ke luar negri..Kalau tidak ada dana, belajar cara otodidak lebih masuk akal sepertinya. (bbg.047)
Bahasa asing rambah pelajar Serdang Bedagai di era global
Bahasa asing rambah pelajar Serdang Bedagai di era globalBupati Serdang Bedagai T. Erry Nuradi menegaskan segenap pelajar di daerah itu agar menguasai bahasa asing untuk menghadapi persaingan di era global.
“Para pelajar perlu sejak dini mempelajari bahasa asing,” katanya saat membuka lomba pidato bahasa Inggris antar pelajar SMA se-Kabupaten Serdang Bedagai di Perguruan Kristen Methodist Indonesia (PKMI) El Shadday Perbaungan.
Era globalisasi, lanjut dia, mengharuskan generasi muda menguasai beberapa bahasa asing yang lazim digunakan dalam komunikasi internasional.
Bahasa asing yang perlu dipelajari dan dikuasai oleh pelajar, yakni bahasa Inggris, Mandarin dan Arab, katanya.
Ketiga bahasa asing tersebut kini banyak dipergunakan di negara-negara berkembang dalam berbagai transaksi ekonomi maupun hubungan bilateral dan regional antar negara.
Melalui penguasaan tiga bahasa tersebut, kata Erry, pemuda Indonesia tidak akan kehilangan akar budayanya sekaligus mempunyai alat untuk menjadi bagian dari dunia.
Dia mengemukakan bahwa di era globalisasi teknologi informasi berkembang pesat, sehingga mengharuskan pelajar lebih gigih menguasai beberapa bahasa asing yang lazim digunakan dalam komunikasi internasional.
“Oleh karena itu, saya menghimbau kepada pelajar di daerah ini agar meningkatkan minat terhadap pelajaran bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, Mandarin dan bahasa Arab,” tambahnya.
Proses belajar mengajar bahasa asing, menurut dia, dapat dilakukan para pelajar di sekolah maupun mempelajari secara otodidak melalui buku-buku dan internet yang saat ini menyediakan beragam informasi yang dapat diakses secara mudah.
“Jika mempunyai kompetensi bahasa, kemampuan yang dimiliki pelajar akan bisa dieskpresikan, katanya.
Erry juga mengajak para pelajar dan guru di Serdang Bedagai agar senantiasa meningkatkan penguasaan teknologi informasi yang terbarukan, seperti penggunaan internet dan juga fasilitas blackberry messanger untuk dapat mengakses informasi lebih cepat, akurat dan mudah.
“Dengan demikian para peserta didik selalu dapat mengikuti perkembangan teknologi komunikasi terbaru saat ini,” tambahnya.
Disebutkannya, pengembangan sumber daya manusia serta ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan daya saing merupakan salah satu pilar Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia yang dicanangkan pemerintah awal tahun 2012. (bbg.036)
Sah Kok Pakai Bahasa Asing, Asal Proporsional
Fenonema masyarakat Indonesia yang lebih gemar menggunakan bahasa asing dibandingkan bahasa nasional mendapat perhatian khusus dari para akademisi, mereka berpendapat bahwa sangat menyanyangkan dengan sikap masyarakat dengan lebih menggalakkan bahasa-bahasa asing ketimbang mempelajari bahasa indonesia lebih dalam.
Kepala Sekolah Labschool Rawamangun, M Fakhruddin, salah satunya. Dia mengatakan, di sekolahnya berencana, akan digalakkan bahasa Indonesia melalui Read more
Bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa pemersatu ASEAN
Bahasa Indonesia sekarang ini berpotensi menjadi bakal menjadi bahasa pemersatu kawasan Asia Tenggara yang sudah terikat dalam Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menunggu ASEAN Connectivity nantinya, tutur salah satu pengamat bahasa, Artini Soeparmo, di Jakarta beberapa waktu yang lalu.
“Bahasa Indonesia sangat memungkinkan bakal menjadi bahasa pemersatu di ASEAN sebab keunggulan serapan dari bahasa Indonesia lebih banyak kepada lokal dilain pihak yakni bahasa negara lain di kawasan ASEAN sudah banyak menyerap bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya,” ucap Artini sebelum dilakukannya Seminar “Kesantunan Berbahasa di Media Sejauh Mana?” yang telah diselenggarakan oleh Tempo Inti Media dan Forum Bahasa Media Massa.
Artini yang juga berprofesi sebagai seorang dosen di London School of Public Relation ini juga berkata untuk mewujudkan hal itu, masyarakat Indonesia perlu membenahi tata bahasa yang mereka pakai terlebih dahulu dalam kehidupan mereka sehari-hari.
“Orang Indonesia perlu menjadi teladan penggunaan bahasa Indonesia terlebih dahulu,” tutur dosen itu.
Artini pun menegaskan masalah dan upaya itu terdapat di bidang pendidikannya, maka dari itu pemerintah kita harus membenahi pendidikan kita agar supaya untuk meningkatkan tata bahasa Indonesia sehingga menjadi lebih menguatkan daya saing bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu ASEAN.
Sementara itu juga Pemimpin redaksi Majalah Tempo, Wahyu Muryadi, pun berkata bahwa media di Indonesia perlu membantu masyarakat untuk memperoleh pendidikan tentang bahasa yang baik dan benar.
“Itu harus diawali dari kampanye bahasa Indonesia yang bersifat nasional sehingga menjadi demam di seluruh penduduk Indonesia, kemudian peduli bahasa sebagai bahasa pemersatu ASEAN,” kata Muryadi.
Menurut Muryadi semangat Sumpah Pemuda harus tetap dilanjutkan meskipun bahasa Inggris menjadi lawan berat sebagai bahasa pemersatu ASEAN.
“Momentum Indonesia yang menjabat Keketuaan ASEAN adalah saat yang tepat untuk mendorong bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu ASEAN,” tutup Muryadi. (bbg.032)
Mari Ajarkan Anak Bahasa Inggris Sejak Dini
Dizaman Reformasi sekarang ini, bahasa Inggris kini sudah menjadi bahasa internasional dan kewajiban untuk dipelajari. Oleh sebab itu, belajar bahasa Inggris perlu diterapkan pada anak sedini mungkin. Mendengar anak kecil fasih berbahasa Inggris bukan lagi hal yang takjub dan mencengangkan. Bahkan, di beberapa sekolah dasar, terutama swasta banyak yang sudah menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Lalu, apabila bahasa Inggris sudah biasa digunakan anak, apakah bagus untuk sosialisasi mereka dimasyarakat, bagaimana dengan bahasa Indonesia? Sejauh mana anak diharuskan pandai berbahasa Inggris?
Dikatakan oleh psikolog dari I Love My Psychologist,Dra.Psi. Heryanti Satyadi M.Si, peranan bahasa Inggris lebih terasa diperlukan anak-anak di kota-kota, terutama di kota-kota besar. Indonesia memang belum mewajibkan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua untuk dipelajari oleh seluruh masyarakat, tetapi kelihatannya kita sedang menuju ke sana. Read more
Mau, Belajar Tujuh Bahasa Asing di IPB
peringatan Dies Natalis Institut Pertanian Bogor (IPB) ke-47, Unit Pelatihan Bahasa IPB mengatakan open house unit itu selama seharian penuh, ada banyak juga kegiatan beraroma budaya dari enam Negara di dunia, yang bahasanya diajarkan di IPB..
Tenaga pengajarnya atau dosen para alumni IPB yang juga pernah studi di negara-negara tersebut adalah Bintoro
Kepala Unit Pelatihan Bahasa IPB Prof MH Bintoro mengatakan, IPB telah mempunyai fasilitas pelatihan tujuh bahasa bagi mahasiswa ataupun staf pengajar dan masyarakat umum yang berminat ingin masuk. Tujuh bahasa itu antara lain Jepang, Jerman, Korea, Inggris, Mandarin, Perancis, dan Arab.
“Tenaga pengajarnya para alumni IPB yang juga pernah studi di negara-negara tersebut. Fasilitas pelatihan ini awal-awalnya diadakan untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dan staf pengajar IPB yang mendapat beasiwa studi atau riset dari negara-negara tersebut,” ujar Kepala Unit Pelatihan Bahasa IPB Prof MH Bintoro.
dalam acara open house tersebut,tambah dari Bintoro, anggotanya telah memfasilitasi para mahasiswa yang ingin berpartisipasi pelatihan itu dan klub-klub mahasiswa yang berminat pada budaya negara-negara tersebut untuk tampil membawakan kesenian atau pernak-pernik budaya negara-negara tersebut, termasuk juga permainan atau seni kriyanya.
Bukan hanya kesenian, panitia pun memfasilitasi pemutaran film-film dokumenter dan karaoke dari beberapa negara tersebut yang sudah disebutkan. Kemeriahan lain yang juga ditampilkan dalam bentuk barongsai barongsai yang merupakan kesenian dari Negara RRC.
“Mahasiswa harus dapat menguasai bahasa asing juga. Di IPB, mahasiswanya wajib bisa bahasa Inggris. Selain bahasa itu, mahasiswa kami berminat dengan bahasa Jepang. Biasanya, makin banyak beasiswa yang ditawarkan suatu negara, makin banyak mahasiswa yang berminat mempelajari bahasa dan budaya negara tersebut,” pungkas Kepala Unit Pelatihan Bahasa IPB Prof MH Bintoro saat itu. (bbg.017)



Sebuah terobosan baru dari 