Alasan Kursus Privat
March 12, 2009 by admin
Filed under Tips Belajar
Mengapa memilih kursus privat? — Saat ini dunia pendidikan berkembang dengan pesat. Standar naik kelas, kelulusan, ujian masuk sekolah, hingga ujian masuk universitas semakin tinggi ditetapkan setiap hari. Sayangnya, hal ini sangat jarang diimbangi dengan peningkatan pembelajar berkualitas di sekolah maupun intitusi formal yang ada. Maka, tak sedikit siswa yang menempuh pembelajaran setelah lepas sekolah, misal mengikuti kursus, bimbingan belajar maupun les/kursus privat.
Namun kali ini kita akan membahas beberapa keunggulan kursus privat. Dengan sifatnya yang lebih personal, kursus privat memiliki beberapa keunggulan dibanding alternatif pembelajaran lainnya, sebagai berikut:
- Belajar menjadi lebih menyenangkan karena guru memposisikan diri sebagai sahabat.
- Siswa menjadi tidak sungkan untuk bertanya semua hal tentang kesulitan belajar yang dialaminya di Sekolah.
- Monitoring siswa yang intensif baik dari guru maupun orang tua siswa.
- Sistem belajar yang fleksibel sesuai dengan kebutuhan siswa
- Siswa akan lebih termotivasi untuk belajar di Rumah karena ada guru yang selalu siap untuk diajak konsultasi.
- Kecepatan pembelajaran, dapat disesuaikan dengan kecepatan pemahaman oleh siswa. Sehingga semua materi dapat dipahami oleh siswa
- Memanfaatkan waktu luang di rumah untuk belajar
Semoga bermanfaat. selamat memilih lembaga privat.
Pejabat Negara Mulai Tinggalkan Bahasa Indonesia
Kalangan para pejabat di Indonesia sekarang dinilai sudah meninggalkan pemakaian bahasa Indonesia dalam acara kenegaraan dan keseharian.
Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) Agus Dharma mengatakan, ada kecenderungan para elite baik yang duduk di kalangan legislatif, eksekutif, dan yudikatif, jika dilihat dari pola bicara mereka sudah tidak ada lagi kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia dalam acara kenegaraan.
Padahal sudah ada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pengunaan Bahasa di dalam dan luar negeri. Adapun pengecualian diberikan jika negara yang bersangkutan mewajibkan penggunaan bahasa lain.
“Sekarang mereka (pejabat) merasa rendah diri kalau berbahasa Indonesia. Sudah ada anjurannya Read more
Bahasa Indonesia dan Inggris, Sama Pentingnya
Institusi pendidikan yang memakai suatu konsep dwibahasa atau bilingual harus didukung penuh oleh sekolah, guru, serta kurikulum dan metode pengajaran yang tepat. Jika tidak dilakukan, bukan cuma berakibat pada sisi akademis dan keterampilan siswa saja, tetapi longgarnya ikatan terhadap penggunaan bahasa nasional dapat berpengaruh buruk pada nasionalisme mereka juga.
Hal tersebut dikatakan oleh Antarina SF Amir, Ketua High/Scope Indonesia, dalam jumpa pers dan seminar “Dual Language Essentials for Teachers and Administrastors” di Jakarta. Acara sosialisasi konsep dual language tersebut menghadirkan pembicara Dr David Freeman dan Dr Yvone Freeman, “pasutri linguistik” dari Universitas Arizona, Amerika Serikat.
Untuk itulah, tambah Antarina, keinginan orangtua membekali anak-anaknya dengan bahasa Inggris sebaiknya harus dengan berbagai pertimbangan matang. Khususnya, ketika mereka membidik sekolah-sekolah favorit yang menawarkan konsep tersebut. Alasannya, konsep dwibahasa tidak sekadar mengubah bahasa pengantar dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.
Antarina mengatakan, aplikasi konsep tersebut harus didukung penuh oleh sekolah, guru, serta kurikulum dan metode pengajaran yang tepat. “Kalau tidak, akibatnya bisa berpengaruh besar pada sisi akademis dan keterampilan siswa. Selain itu, kian minimnya penggunaan bahasa nasional atau Indonesia juga akan berpengaruh buruk pada nasionalisme siswa terhadap bahasa ibunya sendiri,” tandas Antarina.
“Subtractive” dan “Additive”
Antarina mengatakan, ada beberapa jenis metode pengajaran bahasa Inggris pada siswa yang bahasa pertamanya bukan bahasa Inggris. Namun umumnya, secara garis besar metode tersebut bisa diklasifikasikan dalam dua kelompok besar, yaitu Subtractive Programs dan Additive Programs.
Pada Subtractive Programs, instruksi pengajaran disampaikan dalam bahasa Inggris. Pada program ini, jelaslah bahwa bahasa pertama atau bahasa Indonesia digantikan sepenuhnya oleh bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. “Dengan konsep ini beberapa sekolah mengajarkan bahasa Indonesia hanya di saat pelajaran bahasa Indonesia, karena semua mata pelajaran diberikan dalam bahasa Inggris,” kata Antarina.
Itulah kiranya, Antarina memiliki kekhawatiran besar terhadap para siswa sebagai generasi muda Indonesia. “Karena dalam bahasa Inggris siswa memang akan menjadi pandai, baik dalam bahasa akademis maupun sosial. Sebaliknya, ketika harus berbahasa Indonesia mereka hanya sebatas bahasa sosial saja, karena sering digunakan hanya sebagai bahasa percakapan saja,” ujarnya.
Pendapat tersebut diamini oleh Dr David Freeman. David mengatakan, penelitiannya di beberapa negara mengungkapkan, metode Subtractive berisiko mengurangi keterampilan berbahasa pertama pada siswa.
“Perlahan mereka semakin tenggelam pada bahasa kedua dan sebaliknya semakin jauh dari bahasa ibu, akibatnya mereka tidak punya kebanggaan terhadap bahasa nasionalnya sendiri,” kata David.
Sementara itu, proses pembelajaran pada Additive Programs dilakukan dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. “Dengan metode ini sekolah bisa mengembangkan keterampilan berbahasa akademik siswa sekaligus pada kedua bahasa tersebut,” tutur Antarina.
Antarina menambahkan, siswa bukan hanya didorong menguasai bahasa Inggris, tetapi menguatkan kemampuan bahasa Indonesianya sendiri. “Dengan metode ini, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia menjadi sama pentingnya, kualitas siswa menggunakan dua bahasa bisa diandalkan baik pada bahasa akademis maupun sosial,” ujar Antarina.
Berdasarkan itulah, saat ini, kata Antarina, High/Scope memilih mengaplikasikan sistem dual language yang mengacu pada Additive Programs tersebut sebagai proses belajar mengajar siswa. Hal itu sekaligus mendapuk High/Scope sebagai instansi pertama yang mengaplikasikan program ini di Indonesia.
Untuk kebutuhan tersebut, kurikulum didesain sedemikian rupa dalam satu konsep atau ide materi pelajaran yang terintegrasi dari beberapa mata pelajaran sekaligus.
“Satu tema kami sinergikan sekaligus dari semua mata pelajaran mulai dari sains, matematika, sosial, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia, hal ini sekaligus menjadikan siswa bukan hanya baik dalam berbahasa melainkan juga keterampilan lain,” tukas Antarina. (bbg.019)



Sebuah terobosan baru dari 